Rabu, 10 Desember 2008

PESAN PROFETIK KURBAN


Oleh : Gun Gun Heryanto

Prosesi kurban dalam penggalan sejarah yang dialami Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail tak semata persitiwa masa lalu yang kehilangan konteks kekinian. Realitas kenabian (prophetic reality) tentang kurban, seolah menjadi tiang pancang dari proses pencerahan umat manusia akan arti sebuah pengorbanan dalam realitas yang kerap berwajah paradoks. Realitas ibarat sebuah panggung pentas drama yang manyajikan lakon kebaikan dan keburukan, kepatuhan dan pengingkaran, kepedulian dan keangkuhan. Saat akal merasionalisasikan segala hal, ternyata fenomena paradoks di titik tertentu sampai pada titik kebuntuan dan mengharuskan kita secara sadar melakukan pencerahan (iluminasi) melalui titik ketuhanan (God’s spot). Kurban di satu sisi merupakan representasi dari prilaku kepasrahan untuk taat dalam kebulatan tauhid, di sisi lain merupakan manifestasi dari kesalehan sosial untuk peduli pada sesama.

Titik Ketuhanan
Peristiwa kurban yang digambarkan dalam al-Qur’an surat Ash-Shafaat ayat 100-111, memberikan beberapa hikmah pembelajaran, yang tidak semata teologis tapi juga mengandung muatan sosiologis. Pertama, pembelajaran dari Nabi Ibrahim dan Ismail tentang makna sebuah pengorbanan dan ketaatan. Ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun, beliau sangat menghendaki seorang putra. Dengan sungguh-sungguh Ibrahim berdo’a “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh" (QS, 37:100).
Saat Ibrahim dikarunia putra bernama Ismail dari istri keduanya Siti Hajar yang berasal dari Mesir, Ibrahim diuji untuk kehilangan orang yang dicintainya karena perintah Allah SWT. Dalam suatu riwayat, saat itu Ismail kira-kira berusia 6-7 tahun. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaffaat ayat 102 : "Maka tatkala sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata : hai anakku aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu " Ia menjawab: "hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Proses dialog antara bapak dan anak tersebut, menunjukkan bahwa mereka berdua sanggup menafikan ego alami manusia untuk luruh dalam titik ketuhanan. Mimpi berulang-ulang yang diyakini sebagai ru’yal haq menghantarkan laku spiritualitas Ibrahim dan Ismail di level teologis tertinggi yakni kebulatan tauhid. Meskipun, saat mereka mampu melampaui ujian itu, Allah telah menggantikan posisi Ismail dengan binatang kurban.
Kedua, pembelajaran juga dapat kita petik dari keteguhan jiwa Siti Hajar. Saat itu Nabi Ibrahim diberi ujian oleh Allah, agar meninggalkan istrinya, Siti Hajar, di tengah padang pasir dan diperintahkan menemui istri pertamanya, Siti Sarah, yang tinggal di Yerussalem. Siti Hajar dan Ismail hanya dibekali beberapa potong roti dan sebuah guci berisi air. Pada saat mereka kehabisan makanan dan air, Siti Hajar melihat di Bukit Sofa dan Marwah ada air yang ternyata hanyalah fatamorgana. Prosesi berlari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwah hingga berulang tujuh kali, menunjukkan pengorbanan Siti Hajar untuk menjaga Ismail yang diamanatkan kepadanya. Pengorbanan itu pun, telah Allah jawab dengan menunjukkan kemukjizatan berupa keluarnya air yang dikemudian hari dikenal sebagai air zam-zam.
Prophetic Reality
Prosesi sejarah kurban yang diceritakan dalam al-Qur’an tersebut, bisa kita sebut sebagai pesan profetik (prophetic message). Yakni sebuah pesan yang melampaui teologi (beyond teological) dan bernuansa transformatif dalam sebuah ranah realitas sosial yang objektif. Kurban tidak saja bermakna sebuah ritual ibadah tapi juga solusi masalah sosial yang kongkrit. Term profetik dikenalkan oleh Ilmuan sekaligus Budayawan Kuntowijoyo lewat gagasannya “Ilmu Sosial Profetik” yang dilontarkannya dalam buku Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991). Sebenarnya kalau dirunut, gagasan Kuntowijoyo terinspirasi oleh pemikiran Muhammad Iqbal dan Roger Geraudy. Substansi dari kedua pemikir itu adalah sisi “realitas kenabian” (prophetic reality) yang telah menjadi bagian penting dalam proses kesejarahan umat manusia.
Ide penting Iqbal adalah tentang “kesadaran kreatif” (creative consciousness), artinya, realitas “perjuangan” para nabi yang membumi dan masuk pada kancah zaman dan pergolakan sejarah manusia. Sementara ide penting Roger Geraudy yakni seputar “filsafat kenabian” (filsafat profetika) sebuah pemikiran yang melihat bagaimana keterlibatan aktif sejarah kenabian dalam proses penyampaian wahyu, telah mampu mengubah sejarah masyarakat menjadi positif.
Sebuah pesan profetik, tentunya mampu mentransformasikan ajaran wahyu menjadi sarana liberasi (pembebasan), emansipasi (penguatan peran), dan transendensi (keimanan). Pertama, kurban mengandung pesan pembebasan, dalam konteks bagaimana umat manusia mampu berkurban dengan segala kemampuan dirinya untuk berbuat baik serta membebaskan orang-orang di sekelilingnya dari berbagai situasi tuna kuasa. Relasi kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kerap menimbulkan situasi subordinatif bagi orang lemah, miskin, dan tak memiliki sumberdaya. Kedua, bagaimana kurban menjadi sarana emansipasi. Artinya, kurban menjadi katalisator produktivitas dan fungsionalisasi peran. Berkurban tidak dalam dimensi berserah diri yang fatalisme, malainkan menumbuhkan solidaritas sosial yang memecahkan masalah (problem solving). Seperti kokohnya jiwa Siti Hajar saat mati-mati berkorban bolak-balik berlari antara bukit sofa dan Marwah. Solidaritas sosial yang menjadi inti pesan kurban, seyogyanya mengarahkan pada peran-peran individu di masyarakat berbasis semangat komunitarian atau semangat ke-kita-an. Ketiga, pesan transendensi. Dalam hal ini, kurban memfasilitasi peneguhan kepercayaan akan pentingnya membangun komunikasi dengan Allah dalam kesadaran irfani. Dalam konteks ini, kesadaran irfani dimaknai sebagai pengalaman langsung atas realitas spiritual keagamaan, sebagai bagian esoteris (batin) manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT. Seperti digambarkan dalam kebulatan tauhid Nabi Ibrahim saat diperintahkan untuk mengorbankan Ismail.

Tidak ada komentar: